

| Dosis | Package | Price per Dose | Harga | |
|---|---|---|---|---|
| 50mg | 360 pills | IDR25,17 | IDR12.079,74 IDR9.059,81 Harga Terbaik | |
| 50mg | 180 pills | IDR26,94 | IDR6.473,93 IDR4.855,44 | |
| 50mg | 120 pills | IDR30,50 | IDR4.894,82 IDR3.671,12 | |
| 50mg | 90 pills | IDR34,64 | IDR4.144,75 IDR3.108,56 | |
| 50mg | 60 pills | IDR38,49 | IDR3.078,86 IDR2.309,14 | |
| 50mg | 30 pills | IDR40,56 | IDR1.618,19 IDR1.213,64 | |
| 100mg | 360 pills | IDR43,82 | IDR21.041,15 IDR15.780,86 Populer | |
| 100mg | 180 pills | IDR44,41 | IDR10.658,55 IDR7.993,91 | |
| 100mg | 120 pills | IDR45,30 | IDR7.263,48 IDR5.447,61 | |
| 100mg | 90 pills | IDR46,78 | IDR5.605,42 IDR4.204,06 | |
| 100mg | 60 pills | IDR47,97 | IDR3.828,93 IDR2.871,70 | |
| 100mg | 30 pills | IDR54,18 | IDR2.170,87 IDR1.628,15 |
Silostazol adalah agen antiplatelet yang termasuk dalam kelas inhibitor phosphodiesterase-3 (PDE3). Mekanismenya meningkatkan kadar cAMP pada trombosit dan sel otot polos, sehingga menghambat agregasi trombosit serta menimbulkan vasodilatasi arteri perifer. Secara klinis, Silostazol terutama digunakan untuk mengelola klaudikasi intermiten akibat penyakit arteri perifer (PAD) dengan tujuan meningkatkan jarak berjalan tanpa nyeri dan memperbaiki aliran darah perifer.
Secara farmakodinamik, inhibisi PDE3 mengurangi hydrolysis cAMP, sehingga sinyal persisten pada jalur aktivasi trombosit terganggu. Hasilnya adalah penurunan respons trombosit terhadap stimulasi adenosin difosfat (ADP) dan kolagen, yang memperpanjang waktu pembekuan pada lesi arteri perifer tanpa meningkatkan risiko perdarahan secara berlebihan secara drastis pada pasien yang tepat dipilih. Pada otot polos vaskular, peningkatan cAMP menghambat kontraksi otot polos, sehingga terjadi vasodilatasi berpotensi meningkatkan aliran darah kolateral.
Profil farmakokinetik menunjukkan pemberian peroral dengan bioavailabilitas yang bervariasi tergantung asupan makanan. Obat dimetabolisme secara hepatik, terutama melalui enzim CYP3A4 dan CYP2C19, dan diekskresikan melalui urin serta tinja. Setengah-hidup plasma berkisar beberapa jam, dengan metabolit aktif turut berkontribusi terhadap efek farmakologis. Interaksi dengan agen yang memodulasi enzim-enzim ini dapat memengaruhi konsentrasi plasma Silostazol.
Formulasi sediaan yang umum adalah tablet, tersedia dalam dosis 50 mg dan 100 mg. Efek klinisnya memerlukan pemberian jangka menengah hingga jangka panjang, sehingga evaluasi terapeutik dilakukan secara berkala untuk menilai respons fungsional dan tolerabilitas pasien.
Indikasi utama Silostazol adalah klaudikasi intermiten pada PAD, khususnya pada pasien yang menjalani terapi berjalan jarak jauh maupun program rehabilitasi perifer. Pada prinsipnya obat ini digunakan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif yang meliputi manajemen faktor risiko kardiovaskular, latihan terprogram, dan terapi medikamen pendukung untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gangguan aliran darah perifer.
Silostazol tidak dimaksudkan untuk penanganan keadaan iskemia akut atau sebagai pengganti terapi reperfusi, bedah endovaskular, atau operasi. Keputusan penggunaan sebaiknya didasarkan pada evaluasi klinis menyeluruh, termasuk riwayat penyakit jantung, profil neurovaskular, dan toleransi terhadap agen antiplatelet lainnya. Efek vasodilatasi yang diinduksi melalui peningkatan cAMP dapat berkontribusi pada perbaikan jarak berjalan, namun respons bervariasi antar individu.
Dalam praktik klinis, obat ini sering dipertimbangkan pada pasien dengan gangguan handle klaudikasi yang tidak sepenuhnya responsif terhadap program latihan dan modifikasi risiko, dengan catatan bahwa manfaat potensial perlu ditimbang terhadap risiko akibat interaksi obat serta profil efek samping. Silostazol tidak direkomendasikan untuk pencegahan primer atau sekunder terhadap kejadian iskemik sistemik di luar konteks PAD yang telah terkonfirmasi.
Rencana dosis umum untuk pasien dewasa adalah 100 mg dua kali sehari, diminum setelah makan untuk memaksimalkan absorpsi. Jika toleransi tidak baik atau terjadi efek samping yang mengganggu, dosis dapat diturunkan menjadi 50 mg dua kali sehari. Maksimum total harian umumnya 200 mg. Perubahan dosis perlu dipandu oleh respon klinis dan profil keamanan pasien serta tidak boleh dilakukan tanpa supervisi medis.
Tablet tersedia dalam bentuk 50 mg dan 100 mg; penting untuk mengikuti petunjuk kemasan serta instruksi dokter. Disarankan mengonsumsi Silostazol secara teratur pada waktu makan yang sama untuk menjaga konsistensi paparan plasma. Pasien dengan gangguan hati sedangβparah atau riwayat gagal jantung harus dievaluasi secara khusus sebelum memulai terapi, dan pemantauan berkala diperlukan untuk menilai efektivitas serta potensi toksisitas.
Pemantauan klinis meliputi evaluasi jarak berjalan, gejala claudikasi, serta penilaian efek hemodinamik di area ekstremitas. Penghentian spontan direkomendasikan jika muncul tanda perdarahan berat, gejala kardiovaskular yang tidak stabil, atau reaksi hipersensitivitas. Silostazol sering dipakai sebagai bagian dari program manajemen PAD, bukan sebagai agen tunggal yang menyelesaikan semua masalah vaskular.
Kontraindikasi utama meliputi gagal jantung kongestif dalam bentuk apa pun, serta perdarahan aktif yang signifikan. Obat ini juga perlu dihindari pada pasien dengan riwayat perdarahan intracranial atau perdarahan gastrointestinal yang sedang berlangsung, karena peningkatan risiko perdarahan. Kondisi hepatik berat, hipersensitivitas terhadap Silostazol atau expedien lain dalam kelas PDE3 juga menjadi pertimbangan penting sebelum memulai terapi.
Interaksi obat dapat memodulasi eksposi Silostazol. Penggunaan bersamaan dengan inhibitor kuat CYP3A4/CYP2C19 (misalnya beberapa azoles, klaritromisin, atau ritonavir) dapat meningkatkan konsentrasi plasma, meningkatkan potensi efek samping. Sebaliknya, induktor enzim ini dapat mengurangi efek obat. Hindari kombinasi dengan antikoagulan atau agen antiplatelet tambahan tanpa pengawasan klinik karena potensi risiko perdarahan. Hindari juga jus grapefruit karena dapat memodulasi metabolisme obat melalui jalur CYP.
Kehamilan dan menyusui harus dievaluasi secara hati-hati karena data pada populasi ini terbatas. Pengambilan keputusan terapi sebaiknya mempertimbangkan manfaat bagi ibu terhadap potensi risiko bagi janin atau bayi. Pasien lansia dan mereka dengan penyakit komorbid perlu evaluasi dosis berkala serta pemantauan respon terapi, terutama terhadap perubahan denyut jantung, tekanan darah, dan tanda-tanda edema perifer.
Efek samping yang sering dilaporkan meliputi sakit kepala, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, dan vertigo ringan. Palpitasi atau takikardia bisa terjadi pada sebagian pasien, terutama pada fase awal terapi atau ketika dosis ditingkatkan. Edema perifer ringan hingga sedang juga dapat muncul, mengingat efek vasodilatasi yang bersamaan.
Efek lain yang relatif jarang namun perlu diperhatikan adalah nyeri dada, pusing berat, atau gejala perdarahan yang tidak biasa seperti mimisan berat atau tinja berwarna gelap. Gidut hiperplasia atau mulut kering juga telah dilaporkan pada beberapa kasus. Jika gejala-gejala ini muncul atau memburuk, evaluasi medis segera diperlukan untuk menilai kelayakan kelanjutan terapi dan menyesuaikan regimen obat.
Secara umum, respons terhadap Silostazol sangat bergantung pada profil pasien. Perubahan terapi harus dilakukan hanya dengan pedoman profesional kesehatan, mempertimbangkan risiko manfaat secara individual, serta memantau interaksi obat dan komplikasi kardiovaskular yang mungkin timbul.
14β21 hari. Gratis dari IDR3.300,80 .
5β9 hari. IDR495,12
β10% ketika membayar dengan cryptocurrency.
β10% pada semua pesanan ulang.
Semua pesanan dikemas dalam kotak netral yang tidak bermerek tanpa nama produk di luar.
