

| Dosis | Package | Price per Dose | Harga | |
|---|---|---|---|---|
| 25mg | 180 pills | IDR88,82 | IDR17.764,58 IDR15.988,12 Harga Terbaik | |
| 25mg | 120 pills | IDR90,30 | IDR12.040,33 IDR10.836,30 | |
| 25mg | 90 pills | IDR91,79 | IDR9.178,21 IDR8.260,39 | |
| 25mg | 60 pills | IDR93,27 | IDR6.217,39 IDR5.595,65 | |
| 25mg | 30 pills | IDR97,71 | IDR3.256,57 IDR2.930,91 | |
| 50mg | 180 pills | IDR118,43 | IDR23.686,21 IDR21.317,59 Populer | |
| 50mg | 120 pills | IDR119,91 | IDR15.988,09 IDR14.389,28 | |
| 50mg | 90 pills | IDR121,39 | IDR12.139,02 IDR10.925,12 | |
| 50mg | 60 pills | IDR122,87 | IDR8.191,27 IDR7.372,14 | |
| 50mg | 30 pills | IDR124,35 | IDR4.144,82 IDR3.730,33 |
Eplerenon digunakan secara utama pada kondisi hipertensi arteri yang tidak sepenuhnya terkendali dengan terapi lini pertama, serta pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi rendah (HFrEF) untuk mengurangi beban kardiovaskular dan retensi natrium. Pada beberapa konteks klinis, obat ini juga dipertimbangkan untuk menurunkan risiko morbiditas kardiovaskular pasca-insiden jantung. Secara farmakologi, Eplerenon adalah agen diuretik yang bekerja sebagai antagonis reseptor mineralokortikoid, sehingga menghalangi aksi aldosteron pada reseptor di ginjal dan jaringan kardiovaskular. Obat ini diposisikan dalam kategori antagonis reseptor aldosteron yang selektif, dengan profil kerja yang menekan retensi natrium tanpa efek antiandrogenik yang luas.
Eplerenon adalah antagonis reseptor mineralokortikoid (AR) yang selektif terhadap reseptor aldosteron. Mekanisme kerjanya melibatkan pengikatan reseptor aldosteron di ginjal, jantung, dan pembuluh darah, sehingga mengurangi efek aldosteron pada retensi natrium dan pembentukan jaringan interstasial. Efek klinisnya mencakup peningkatan ekskresi natrium, penurunan volume cairan, serta potensi modul remodelisasi jantung yang dapat berkontribusi pada stabilitas hemodinamik pada gangguan kardiovaskular. Dengan selektivitasnya, profil efek samping hormonal lebih rendah dibanding antagonis MR non-selektif.
Dalam konteks obat golongan, eplerenon termasuk kelas antagonis reseptor mineralokortikoid (ARAs). Spironolaktone adalah contoh lain dari kelas ini yang bersifat kurang selektif. Eplerenon diposisikan sebagai pilihan yang lebih selektif terhadap reseptor aldosteron, sehingga diharapkan memiliki mekanisme kerja yang serupa namun dengan profil efek samping yang berbeda. Secara umum, agen-agen ini menekan aksi aldosteron yang berperan dalam retensi natrium dan remodelisasi ventrikel.
Within the same pharmacologic class, eplerenon menonjol karena selektivitas reseptor aldosteron yang lebih tinggi dibanding spironolaktone, sehingga kejadian efek samping endokrin seperti ginekomastia dan gangguan hormonal cenderung lebih jarang. Namun keduanya memiliki risiko hiperkalemia, terutama pada pasien dengan disfungsi ginjal atau kombinasi dengan agen hemodinamik lain seperti inhibitors sistem renin-angiotensin. Finerenone, sebagai antagonis MR non-steroidal, menawarkan profil keamanan hiperkalemia yang berbeda dan dapat digunakan pada subkelompok pasien tertentu dengan risiko ginjal.
Secara praktis, eplerenon biasanya memiliki profile drug-drug interaction yang serupa dengan spironolaktone, yaitu peningkatan risiko hiperkalemia ketika dikombinasikan dengan ACE inhibitors atau ARBs. Perbedaan penting terletak pada efek samping hormonal; spironolaktone lebih berisiko menyebabkan gangguan hormonal dan ginekomastia. Finerenone cenderung memiliki kejadian efek samping endokrin yang lebih rendah, namun indikasi klinisnya bisa berbeda dibandingkan eplerenon. Perbandingan ini relevan ketika mempertimbangkan tolerabilitas dan risiko pasien secara individual.
Indikasi resmi mencakup pengelolaan hipertensi serta perawatan jangka panjang pada gagal jantung dengan fraksi ejeksi rendah (HFrEF) sebagai bagian dari terapi standar, dengan tujuan menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Selain itu, penggunaan setelah infark miokard pada pasien dengan tanda-tanda beban kardiovaskular dapat dipertimbangkan untuk melindungi funksional jantung. Penyesuaian dosis dipertimbangkan berdasarkan fungsi ginjal, kadar kalium serum, dan respons tekanan darah serta volume cairan pasien.
Dalam praktik klinis, pemantauan laboratorium secara berkala diperlukan untuk menjamin keamanan terapi. Kalium serum dan fungsi ginjal harus dinilai sebelum memulai terapi, serta selama perawatan berkelanjutan. Pengawasan klinis juga penting untuk mendeteksi tanda-tanda hiperkalemia, hiponatremia, atau gangguan elektrolit lainnya. Eplerenon biasanya dipilih sebagai alternatif pada pasien yang membutuhkan antagonis MR tetapi dengan profil efek samping hormonal yang lebih rendah dibanding opsi lain.
Pada populasi klinis tertentu, eplerenon direkomendasikan sebagai bagian dari terapi kombinasi untuk hipertensi dan gangguan kardiovaskular yang terkait beban hormonal. Penyesuaian dosis dilakukan secara bertahap, dengan penekanan pada pemantauan tekanan darah, status volume, dan elektrolit. Penggunaan jangka panjang memerlukan evaluasi berkala terhadap kebutuhan terapi serta potensi risiko hiperkalemia, terutama pada pasien dengan gangguan ginjal atau penggunaan obat lain yang meningkatkan kadar kalium serum.
Berikut perbedaan utama antara eplerenon dan agen MR antagonist lain yang umum dipakai:
| Obat | Selektivitas/Meβkanisme | Efek Samping Utama | Indikasi Umum |
|---|---|---|---|
| Eplerenon | Sangat selektif terhadap reseptor aldosteron | Hiperkalemia, gangguan GI ringan | Hipertensi, Gagal Jantung HFrEF |
| Spironolaktone | Non-selektif MR antagonis | Ginekomastia, hipogonadisme, hirsutisme | Hipertensi, edema, Gagal Jantung, hiperaldosteronisme |
| Finerenone | MR antagonis non-steroidal | Hiperkalemia, lebih rendah efek endokrin | CKD terkait diabetes tipe 2; hipertensi dengan CKD |
profil keamanan utama mencakup risiko hiperkalemia, terutama pada pasien dengan gangguan ginjal, dekompensasi jantung, atau penggunaan bersama ACE inhibitors/ARB. Efek samping gastrointestinal ringan bisa terjadi, sementara gangguan hormonal yang terkait dengan spironolaktone jarang ditemui pada eplerenon. Interaksi obat yang perlu dipantau meliputi kombinasi dengan diuretik raksa kalium, NSAID, dan agen penekan sistem renin-angiotensin. Pemantauan fungsi ginjal dan kadar kalium serum secara berkala dianjurkan selama terapi berlangsung. Kehamilan harus dihindari karena potensi risiko pada janin, dan laktasi kadar eksposur tidak jelas.
14β21 hari. Gratis dari IDR3.300,80 .
5β9 hari. IDR495,12
β10% ketika membayar dengan cryptocurrency.
β10% pada semua pesanan ulang.
Semua pesanan dikemas dalam kotak netral yang tidak bermerek tanpa nama produk di luar.
