

| Dosis | Package | Price per Dose | Harga | |
|---|---|---|---|---|
| 150mg | 360 pills | IDR10,66 | IDR4.810,96 IDR3.848,77 Harga Terbaik | |
| 150mg | 240 pills | IDR10,96 | IDR3.293,54 IDR2.634,83 | |
| 150mg | 180 pills | IDR13,62 | IDR3.071,48 IDR2.457,18 | |
| 150mg | 120 pills | IDR14,80 | IDR2.220,24 IDR1.776,19 | |
| 150mg | 90 pills | IDR16,28 | IDR1.850,14 IDR1.480,11 | |
| 150mg | 60 pills | IDR15,99 | IDR1.183,96 IDR947,17 | |
| 150mg | 30 pills | IDR18,65 | IDR702,82 IDR562,26 | |
| 300mg | 360 pills | IDR16,88 | IDR7.586,72 IDR6.069,38 Populer | |
| 300mg | 240 pills | IDR18,36 | IDR5.514,15 IDR4.411,32 | |
| 300mg | 180 pills | IDR19,54 | IDR4.403,85 IDR3.523,08 | |
| 300mg | 120 pills | IDR21,61 | IDR3.256,53 IDR2.605,22 | |
| 300mg | 90 pills | IDR23,09 | IDR2.590,35 IDR2.072,28 | |
| 300mg | 60 pills | IDR25,17 | IDR1.887,15 IDR1.509,72 | |
| 300mg | 30 pills | IDR28,13 | IDR1.072,93 IDR858,34 |
Apakah ranitidin aman untuk meredakan gejala nyeri dada akibat refluks asam atau tukak lambung?
Ranitidin adalah agen antagonis reseptor histamin-2 (H2) yang bekerja dengan menghambat sekresi asam lambung pada sel parietal. Melalui penghambatan ini, frekuensi dan volume produksi asam menurun, sehingga gejala seperti heartburn dan regurgitasi dapat berkurang. Penggunaan klinis meliputi penanganan gejala refluks gastroesofageal, ulkus peptikum, gastritis, serta perlindungan mukosa lambung pada keadaan tertentu. Penggunaan sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan dan sesuai petunjuk kemasan atau resep.
Ranitidin merupakan obat lini pertama untuk penanganan gejala asam lambung berlebihan dengan mekanisme kerja berupa antagonisme selektif terhadap reseptor histamin H2 pada mukosa lambung. Hal ini mengurangi stimulasi sel parietal untuk sekresi asam, sehingga pH lambung meningkat dan iritasi mukosa berkurang. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet oral, kapsul, atau bentuk cair sesuai dosis yang diresepkan.
Secara farmakodinamik, onset efek biasanya terlihat dalam waktu beberapa jam setelah pemberian, dengan efek puncak pada paparan dosis yang dianjurkan. Penggunaan jangka pendek umumnya aman pada individu dewasa; pada anak-anak, lanjut usia, atau pasien dengan penyakit kronis memerlukan penilaian risiko-manfaat yang cermat. Informasi kemasan dan petunjuk dokter selalu mengikuti rekomendasi terbaru dan pedoman klinik.
Indikasi utama mencakup gejala refluks asam yang tidak terkontrol oleh perubahan gaya hidup, nyeri dada akibat hiper-asiditas, serta ulkus peptikum sebagai upaya penyembuhan atau pencegahan relapse. Ranitidin juga dipakai sebagai perlindungan mukosa pada pasien yang menerima terapi yang meningkatkan produksi asam lambung atau pada keadaan gastritis non-erosif yang terkait dengan nyeri. Dalam beberapa pedoman, penggunaan jangka menengah dapat dipertimbangkan untuk pencegahan tukak lambung pada kondisi berkepanjangan.
Pada praktik klinis, pilihan terapi disesuaikan dengan etiologi nyeri, tingkat keparahan gejala, serta respons terhadap terapi non-obat. Efek terapeutik pada pasien dengan gastritis terkait H. pylori biasanya dilihat sebagai bagian dari rejimen multi-farmakologi yang melibatkan eradikasi bakteri, perbaikan pola makan, dan manajemen nyeri. Evaluasi ulang gejala serta tindak lanjut kadar asam lambung diperlukan jika respons tidak memadai atau gejala berlanjut setelah terapi awal.
Kontraindikasi absolut meliputi hipersensitivitas diketahui terhadap ranitidin atau obat lain dalam kelas antagonis reseptor histamin H2. Reaksi hipersensitivitas dapat berpotensi berat meskipun jarang terjadi, sehingga riwayat alergi terhadap obat serupa perlu dicatat sebelum pemberian. Penggunaan ranitidin pada pasien dengan hipersensitivitas harus dihindari dan diganti dengan alternatif pilihan terapi yang sesuai.
Cermati faktor predisposisi seperti gangguan fungsi hati maupun ginjal. Pada gangguan ginjal dengan creatinine clearance menurun, diperlukan penyesuaian dosis dan pemantauan klinis serta biomarker untuk menghindari akumulasi obat. Gangguan hati juga dapat mempengaruhi metabolisme minor ranitidin, meskipun secara farmakokinetik rute utama eliminasi bersifat renal; evaluasi fungsi organ terkait dianjurkan pada penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi.
Kehamilan dan menyusui menuntut pertimbangan yang cermat. Walau pengalaman pemakaian pada kehamilan relatif terbatas, manfaat bagi ibu dan potensi risiko pada janin harus dievaluasi secara individual. Ranitidin dapat diekskresikan ke dalam ASI; jika diperlukan, manfaat terapeutik bagi ibu harus dipertimbangkan terhadap potensi paparan pada bayi. Penggunaan pada populasi lanjut usia sebaiknya diiringi pemantauan perilaku kognitif karena risiko kebingungan atau disorientasi meningkat pada dosis tinggi atau pada kondisi komorbiditas.
Sangat umum: sakit kepala, pusing, kelelahan, serta gejala pencernaan seperti mual, diare, atau sembelit.
Umum: mulut kering, gangguan tidur, nyeri perut ringan, dan perubahan selera makan. Beberapa pasien juga melaporkan gelisah ringan atau detak jantung yang terasa lebih cepat secara temporer.
Kadang-kadang: muntah, nyeri perut berkelanjutan, perubahan enzim hati yang terdeteksi pada pemeriksaan laboratorium, serta reaksi kulit ringan seperti ruam.
Jarang hingga sangat jarang: reaksi alergi berat (ruam parah, pembengkakan wajah atau lidah), gangguan fungsi hati berat dengan gejala ikterus, serta perubahan mental pada lansia seperti kebingungan, halusinasi, atau insomnia yang signifikan. Reaksi serius sangat jarang tetapi memerlukan penanganan medis segera.
Interaksi absorpsi dapat terjadi dengan obat yang kebutuhan pH asam lambung untuk penyerapannya. Gunakan ranitidin bersama antasida dengan jarak waktu yang tepat, misalnya antasida dipakai beberapa jam sebelum atau sesudah ranitidin untuk meminimalkan gangguan penyerapan obat lain seperti suplemen besi atau obat antimikotika yang memerlukan pH rendah untuk efektivitasnya. Ketentuan ini penting pada obat yang bergantung pada keasaman lambung untuk penyerapan optimal.
Obat golongan lain yang perlu dipisahkan adalah sucralfate, yang sebaiknya diberikan minimal 2 jam sebelum atau sesudah ranitidin untuk mengurangi gangguan penyerapan. Selain itu, beberapa agen antiretroviral, antijamur topo tertentu (seperti obat yang memerlukan pH asam untuk penyerapan seperti ketoconazole/itraconazole), dan obat yang dimetabolisme secara hati dapat mengalami perubahan bioavailabilitas. Perhatikan instruksi khusus pada kemasan atau resep untuk jarak pemberian.
Dampak pada obat lain yang menggunakan jalur metabolisme hati relatif kecil dengan ranitidin, namun terdapat laporan kasus mengenai peningkatan kadar obat antikoagulan (misalnya warfarin) atau antikejang neuropsikologis pada terapi konkomitan. Oleh karena itu, pemantauan klinis dan pemeriksaan laboratorium yang relevan dianjurkan bila ranitidin digunakan bersamaan dengan agen-agen tersebut. Pada penggunaan jangka panjang, defisiensi vitamin B12 dapat terjadi karena penurunan asam lambung dan warrant evaluasi status gizi jika terapi berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
14β21 hari. Gratis dari IDR3.300,80 .
5β9 hari. IDR495,12
β10% ketika membayar dengan cryptocurrency.
β10% pada semua pesanan ulang.
Semua pesanan dikemas dalam kotak netral yang tidak bermerek tanpa nama produk di luar.